Troli  

(kosong)

Joint Batik Solo Boutique Face Book

Batik Solo Boutique paypal

Address

  • CV.Elleanor Batik
  • Jl,Merpati No. 4 Rt.02 RW.06 Kerten
  • 57136 Solo
  • Jawa Tengah
  • Indonesia
  • Phone: +6287881740220
  • E-mail: ellen@batiksoloboutique.com

Online Status

2.gif

Testimony

Sejarah Batik Semarang 2010-05-03

Menelusuri Jejak Sejarah Batik Semarang

 

Meski jumlahnya terbatas, batik Semarang masih dilestarikan oleh beberapa pengrajinnya. Salah satu pengrajin batik yang tetap eksis mempertahankan warisan budaya tersebut ialah Umi S Adi Susilo.

Batik yang bertajuk Semarang 16 ini yang menjadi material utama 13 desainer terkemuka Indonesia yang menggelar fashion show pada acara HUT ke-461 Semarang yang perayaannya jatuh pada 2 Mei 2008.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Perancang dan Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), Taruna K Kusmayadi, corak dan motif yang terdapat pada batik Semarang cukup unik dan tidak kalah dengan batik-batik yang sudah populer selama ini. Selain itu, warna yang tersemburat pada batik Semarang juga lebih monokromatik, sehingga tampil indah setelah diolah.

Meskipun ada persamaan ciri-ciri motif batik Semarang dengan batik pesisir lainnya, namun jika diamati secara teliti, ada juga detil perbedaannya. Perbedaan itu dapat dilihat antara lain pada detil-detilnya.

Pada umumnya batik Semarang berwarna dasar oranye kemerahan karena mendapat pengaruh dari China dan Eropa. Selain itu, motif dasar batik Semarang banyak dipengaruhi budaya China yang pada umumnya banyak menampilkan motif fauna yang lebih menonjol daripada flora. Misalnya merak, kupu-kupu, jago, cendrawasih, burung phunix, dan sebagainya. Motif-motif ini tidak terlepas dari pengaruh budaya China.

“Batik Semarang identik dengan warna terang, kalau yang zaman dulu bukan dari China, tapi Belanda itu arah warnanya merah bata. Kalau China lebih ke warna oranye. Jadi pengaruh negara lain ikut turut andil dalam pewarnaan batik Semarang,” kata ibu Umi saat ditemui okezone dalam dalam acara press conference di Hotel Pandanaran, Semarang, Jumat (2/5/2008).

Sementara itu, ciri-ciri motif batik Semarang menurut ibu Umi, tidak simbiolis seperti batik-batik di Surakarta dan Yogyakarta. “Kebanyakan batik Semarang diambil dari hal-hal yang ada di sekitar kita baik cerita legenda-legenda Semarang atau tentang makanan khas Semarang. Bahkan batik yang ada di zaman Belanda itu diangkat oleh kita dengan tema zaman Diponegoro. Jadi tidak terlalu simbiolis seperti batik Solo atau Yoyakarta,” bebernya.

Pengaruh budaya China dan Eropa, lanjutnya, turut andil dalam batik Semarang. Meski motifnya sangat beragam, ciri khas Semarang tetap ada. “Semarang diambil dari kata asem dan arang jadi asem yang jarang-jarang. Legenda-legenda lain menjadi tambahannya,” terang wanita keturunan Betawi yang sampai kini selalu concern dengan batik Semarang itu.

Adapun motif Semarang yang menonjolkan ikon kota Semarang, sambungnya, banyak menggunakan motif Tugu Muda, Lawang Sewu, burung kuntul, Wisma Perdamaian, Gereja Blenduk, bukit, dan laut. Semua motif tersebut, dijelaskan ibu Umi sebagai identitas kepribadian bangsa agar tidak terkikis oleh perluasan budaya global.

Sedangkan proses pembuatan batik tulis Semarang yang dapat dilakukan hingga mencapai tiga bulan itu, dimulai dari proses pembuatan, penggambaran hingga pewarnaan dan menghasilkan batik. Menurutnya, semakin sulit tingkat pengerjaan dan pemilihan kain yang digunakan, akan menentukan harga yang dibayar. Meski demikian, Anda dapat memeroleh batik Semarang mulai dari Rp30 ribu-Rp5 juta. (nsa)

Source: Menelusuri Jejak Sejarah Batik Semarang | OkeZone.com


Home Home | Back to Sejarah Batik